A. SEMEN PROTLAN
Berdasarkan standar industri
indonesia semen protlan dibagi atas 5 jenis :
1.
Semen protlan yang berfungsi untuk
penggunaan secara umum dan tidak memerlukan persyaratan khusus seperrti pada
jenis yang lain sering disebut semen standar atau semen protlan biasa. Ini
digunakan untuk pekerjaan beton secara umum.
2.
Semen protlan yang didalam
penggunaannya memerlukan ketahanan dalam sulfat dan panas higrasi sedang. Pada
jenis ini kadar c3a disyaratkan maksimum 8% . penggunaan jenis ini
untuk konstruksi yang berhubungan secara terus menerus dengan air kotor dan air
tanah yang mengandung larutan garam atau sulfat saluran buangan industri atau
daerah rawah.
3.
Semen protlan yang dalam penggunaannya
memerlukan kekuatan awal yang tinggi.Jenis kadar ca3 maksimum 15%.
Kekuatan tekan semen jenis ini pada umur 3 hari sama dengan kekuatan tekan
semen jenis ini pada umur 1 hari.Penggunaanya pada konsrtuksi yang memerlukan
pembukaan acuan prespetin ialah awal seperti konstruksi jalan.
4.
Semen protlan yang dalam
penggunaanya memerlukan panas higrasi rendah dan kadar c3s maksimum
35% c3s minimum 40% serta c3a maksimum 7%.Jenis semen protlan ini digunakan
pada properti dam.
5.
Semen protlan yang dalam penggunaanya
memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat. Semen ini mengeluarkan panas
kira-kira 25-40% lebih renda dari jenis semen 1 dengan kadar c3a maksimum 5%
dan c3s maksimum 50% karna c3s melepas ca (dh)2, yang dapat mengurangi semen
terhadap sulfat.
Jenis-jenis semen selain
semen protland
1.
Semen alami
Semen ini diperoleh langsung dari alam (berbentuk oleh
proses alam) yang mempunyai komposisi mirip dengan komposisi semen protland
biasa. Proses produksi semen ini tetap melalu proses pembakaran dengan baku
yang relatif rendah.
2.
Semen yang dapat mengembang
Untuk berbagai tujuan sangat menguntungkan menggunakan
suatu jenis semen yang volumenya tidak berubah atau khusus dapat mengembang
besar dan mengeras.
Semen jenis ini telah dikembangkan oleh H.LOSSER (dari
prancis) yang menggunakan suatu campuran semen protland bahan yang dapat
mengembang dan memantap
3.
Semen dengan kadar alumia tinggi
Semen ini diperoduksi dalam jumlah yang kecil
dibandingkan dengan semen protland sangat berbeda komposisi (kadar kapur dan
silika rendah).
B. SEMEN KHUSUS
Semen-semen jenis ini
biasanya diproduksi dengan maksud tertentu misalanya, untuk memberi warna atau
bahkan karna penggunaan atau persediaan agregat yang terbatas sehinga diharuskan
menggunakan agregat yang mengandung garam
1.
Semen putih yang berwarna
2.
Semen kedap air
3.
Semen haidro fobig
4.
Semen anti bakteri
5.
Semen protland perak tungku tinggi
6.
Semen tahan sulfat
7.
Semen protland fosoland
A.
AGREGAT
HALUS
Pasir kuarsa hitam terdiri
dari keristal-keristal Si O2 asal mula terbentuknya bersal dari
pasir kuarsa putih yaitu terdiri berbagai macam kotoran bseperti dari
oksida-oksida logam dan organik. Kegunaan dari pasir kuarsa hitam adalah untuk
a. Untuk
adukan beton, spesi dan sebagainya
b.Untuk
pembuatan batu cetak
c. Untuk
meningkatkan daya tahan gesek rel kereta api
d.Untuk
pembuatan jalan raya
e. Untuk
bangunan basah dan lain-lain
Pada labolatorium struktur
dan bahan ini dilakukan 6 percobaan agregat halus (pasir) yaitu :
a. Analisa
saringan / gradasi agregat halus
b.Berat jenis
dan penerapan agregat halus
c. Berat
volume agregat halus
d.Kadar air
agregat halus
e. Kadar
lumpur dan lempung agregat halus
f.
Kadar bahan organik agregat halus
B.
AGREGAT
KASAR
Beton dapat berupa
kerikil-kerikil bisen tegrasi dari batuan-batuan atau berupah batu pecah yang
diperoleh dari pemecahan batu. Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar
adalah agregat dengan besar butiran 5 mm.
Jenis agregat ini
permukaanya kasar dan banyak memerlukan air, penggunaan dalam beton serta
kegunaannya bagus . syarat-syarat agregat kasar antara lain :
a. Harus
terdiri dari batuan yang halus dan tak berpori
b.Yang tidak
mengandung butir-butir pipih hanya bisa digunakan bila jumlah butir pipih
tersebut tidak melebihi dari 20% keseluruhan agregat.
c. Harus
tahan terhadap cuaca
d.Tak
mengandung lumpur lebih dari 1% di tentukan tahap berat kering
Yang diartikan lumpur adalah
bagian-bagian yang dapat melalui saringan no.200 (saringan ASTM) yaitu saringan
0,063 mm bila kadar lumpur melebihi 1% maka agregat kasar harus dicuci sebelum
digunakan.
Agregat kasar tidak boleh
mengandung zat-zat reaktif, alkali, kekerasan butiran agregat kasar dapat diperiksa
dengan menggunakan mesin los angles, dimana tidak lolos 50% saringan No.12
(ASTM).
Agregat kasar harus terdiri
dari batu-batu beraneka ragam besarnya dan harus bergradasi baik
1.Kekerasan
dari butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari rudelop dengan
beban uji seberat 20 ton dan harus memenuhi syarat-syarat sbb:
a. Tidak
terjadi pembekuan sampai fraksi 9,5 sampai 1,9 mm lebih dari 20% kadar berat.
b. Tidak
terjadi pembekuan sampai fraksi 19 sampai 30 mm lebih dari 22% atau mesin los
angeles beratnya tidak boleh melebihi 50% berat keseluruhan.
2.Agregat
kasar terdiri dari butir-butir yang berfariasi besarnya dan biala digunakan
ayakan dengan susunan ayakan yang telah ditentukan harus memnuhi syarat-syarat
sbb:
a. Sisa
pada ayakan 4 mm harus berkisar 90
sampai 98% dari berat.
b. Selisih
antara sisah komolatif pada ayakan yang
berukauran maksimum 60% dan minimum 10% dari berat.
3.Berat butir
agregat tidak boleh lebih dari 1/5 jarak
terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan, 1/3 dari tebal plat atau 34
dari jarak bersih antara batang-batang / berkas-berkas tulangan. Penyimpanan
dari batasan ini boleh dengan seisin ahlinya, cara-cara pengaturan apabila
tidak terjadi sarang-sarang kerikil.
4.Istilah-istilah
a. Berat
jenis pesifik adalah perbandingan antara berat kering agregat kasar dengan
berat air suling pada tekanan volume sama.
b. Berat
jenis spesifi kering permukaan jenuh (ssd) adalah perbandingan antara berat
kering permukaan jenuh agregat kasar dengan berat air suling pada volume sama
pada suhu t derajat selcius.
c. Berat
jenis spesifik semu adalah perbandingan antara berat kering agregat kasar
dengan berat air suling pada volume sama.
d. Penyerapan
adalah persentase berat air yang dapat disimpan pori terhadap agregat kering.
Pemeriksaan kekerasan
agregat kasar dengan bejana rudolf :
1.Alat
a. Timbanga
dengan ketelitian 0,01 gram.
b.Bejana
tekan rudolf dengan 0 selinder 11,8 cm tinggi 40 cm lengkap dengan stempelnya.
c. Mesin
tekan kapasitas 40 ton.
d.Ayakan
standar.
e. Cawang/baki.
2.Bahan
a. Kerikil
/agregat kasar.
Þ
Langkah-langkah kerja
1.Siapkan
batu pecah atau kerikil dari hasil ayakan fraksi a antara 30 sampai 19,2 mm.
Fraksi b antara 19,2 sampai 9,6 mm, masing-masing fraksi diambil kurang lebih
sebanyak 1,1 liter untuk setiap 1x pengujian.
2.Keringkan
masing-masing fraksi sampai berat tetap dan ditimbang .
3.Masukkan
agregat (masing-masing fraksi) kedalam bejana rudolf dan retakan permukaannya.
4.Pasangkan
stempel penekan tepat di atas permukaan agregat.
5.Lakukan
pembebanan dibawah mesin tekan dengan beban 20 ton dalam tempo 1 ½ menit.
6.Tahan pada
tekanan 20 ton selama ½ menit kemudian angkat bejana rudolf dari mesin tekan .
7.Keluarkan
agregat dari bejana dan lakukan pengayakan dengan ayakan ukuran 2 mm (jangan
sampai ada yang tercecer).
8.Tampung
bagian yang menembus ayakan 2 mm pada tiap-tiap fraksi dan timbang beratnya.
9.Hitungan
presentase kekrasan dengan rumus (berat contoh/berat yang lolos
ayakan X 100%).
Pemeriksaan Kekerasan Agregat Kasar Dengan Cara
Goresan Kawat Tembaga
Alat dan bahan
·
Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
·
Kawat tembaga kurang lebih 0,1/16
inci dengan kekerasan rokwel yang dibuat pada salah satu ujungnya agak runcing
(seperti pinsil)
·
Baki / loyang
·
Ayakan standar ukuran 9,6 mm, 12,5
mm, 19,2 mm, 25,4 mm, 38,4 mm, dan 50 mm.
·
Riftle samler
Bahan
·
Agregat kasar
Langkah kerja
1.
Ambillah contoh agregat dari hasil
pencampuran dan pembagian dengan menggunakan riftle sampler kurang lebih
sebanyak 20 kg.
2.
Ayakan agregat diatas dengan
menggunakan susunan ayakan dan jumlah benda uji yaitu :
55 mm – 38,4 mm à
minimum 12.000 gram
38,4 mm – 25,4 mm à
minimum 4.500 gr
25,4 mm – 19,2 mm à
minimum 1.500 gr
19,2 mm – 12,5 mm à
minimum 600 gr
12,5 mm – 9,6 mm à
minimum 200 gr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar