Selasa, 21 April 2015

SEMEN PROTLAN



A.       SEMEN PROTLAN
Berdasarkan standar industri indonesia semen protlan dibagi atas 5 jenis :
1.        Semen protlan yang berfungsi untuk penggunaan secara umum dan tidak memerlukan persyaratan khusus seperrti pada jenis yang lain sering disebut semen standar atau semen protlan biasa. Ini digunakan untuk pekerjaan beton secara umum.
2.        Semen protlan yang didalam penggunaannya memerlukan ketahanan dalam sulfat dan panas higrasi sedang. Pada jenis ini kadar c3a disyaratkan maksimum 8% . penggunaan jenis ini untuk konstruksi yang berhubungan secara terus menerus dengan air kotor dan air tanah yang mengandung larutan garam atau sulfat saluran buangan industri atau daerah rawah.
3.        Semen protlan yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang tinggi.Jenis kadar ca3 maksimum 15%. Kekuatan tekan semen jenis ini pada umur 3 hari sama dengan kekuatan tekan semen jenis ini pada umur 1 hari.Penggunaanya pada konsrtuksi yang memerlukan pembukaan acuan prespetin ialah awal seperti konstruksi jalan.
4.        Semen protlan yang dalam penggunaanya memerlukan panas higrasi rendah dan kadar c3s maksimum 35% c3s minimum 40% serta c3a maksimum 7%.Jenis semen protlan ini digunakan pada properti dam.
5.        Semen protlan yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat. Semen ini mengeluarkan panas kira-kira 25-40% lebih renda dari jenis semen 1 dengan kadar c3a maksimum 5% dan c3s maksimum 50% karna c3s melepas ca (dh)2, yang dapat mengurangi semen terhadap sulfat.

Jenis-jenis semen selain semen protland
1.        Semen alami
Semen ini diperoleh langsung dari alam (berbentuk oleh proses alam) yang mempunyai komposisi mirip dengan komposisi semen protland biasa. Proses produksi semen ini tetap melalu proses pembakaran dengan baku yang relatif rendah.
2.        Semen yang dapat mengembang
Untuk berbagai tujuan sangat menguntungkan menggunakan suatu jenis semen yang volumenya tidak berubah atau khusus dapat mengembang besar dan mengeras.
Semen jenis ini telah dikembangkan oleh H.LOSSER (dari prancis) yang menggunakan suatu campuran semen protland bahan yang dapat mengembang dan memantap
3.        Semen dengan kadar alumia tinggi
Semen ini diperoduksi dalam jumlah yang kecil dibandingkan dengan semen protland sangat berbeda komposisi (kadar kapur dan silika rendah).

B.       SEMEN KHUSUS
Semen-semen jenis ini biasanya diproduksi dengan maksud tertentu misalanya, untuk memberi warna atau bahkan karna penggunaan atau persediaan agregat yang terbatas sehinga diharuskan menggunakan agregat yang mengandung garam
1.        Semen putih yang berwarna
2.        Semen kedap air
3.        Semen haidro fobig
4.        Semen anti bakteri
5.        Semen protland perak tungku tinggi
6.        Semen tahan sulfat
7.        Semen protland fosoland



A.               AGREGAT HALUS
Pasir kuarsa hitam terdiri dari keristal-keristal Si O2 asal mula terbentuknya bersal dari pasir kuarsa putih yaitu terdiri berbagai macam kotoran bseperti dari oksida-oksida logam dan organik. Kegunaan dari pasir kuarsa hitam adalah untuk
a. Untuk adukan beton, spesi dan sebagainya
b.Untuk pembuatan batu cetak
c. Untuk meningkatkan daya tahan gesek rel kereta api
d.Untuk pembuatan jalan raya
e. Untuk bangunan basah dan lain-lain
Pada labolatorium struktur dan bahan ini dilakukan 6 percobaan agregat halus (pasir) yaitu :
a. Analisa saringan / gradasi agregat halus
b.Berat jenis dan penerapan agregat halus
c. Berat volume agregat halus
d.Kadar air agregat halus
e. Kadar lumpur dan lempung agregat halus
f.   Kadar bahan organik agregat halus
B.               AGREGAT KASAR
Beton dapat berupa kerikil-kerikil bisen tegrasi dari batuan-batuan atau berupah batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butiran 5 mm.
Jenis agregat ini permukaanya kasar dan banyak memerlukan air, penggunaan dalam beton serta kegunaannya bagus . syarat-syarat agregat kasar antara lain :
a. Harus terdiri dari batuan yang halus dan tak berpori
b.Yang tidak mengandung butir-butir pipih hanya bisa digunakan bila jumlah butir pipih tersebut tidak melebihi dari 20% keseluruhan agregat.
c. Harus tahan terhadap cuaca
d.Tak mengandung lumpur lebih dari 1% di tentukan tahap berat kering
Yang diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui saringan no.200 (saringan ASTM) yaitu saringan 0,063 mm bila kadar lumpur melebihi 1% maka agregat kasar harus dicuci sebelum digunakan.
Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat reaktif, alkali, kekerasan butiran agregat kasar dapat diperiksa dengan menggunakan mesin los angles, dimana tidak lolos 50% saringan No.12 (ASTM).
Agregat kasar harus terdiri dari batu-batu beraneka ragam besarnya dan harus bergradasi baik
1.Kekerasan dari butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari rudelop dengan beban uji seberat 20 ton dan harus memenuhi syarat-syarat sbb:
a.  Tidak terjadi pembekuan sampai fraksi 9,5 sampai 1,9 mm lebih dari 20% kadar berat.
b.  Tidak terjadi pembekuan sampai fraksi 19 sampai 30 mm lebih dari 22% atau mesin los angeles beratnya tidak boleh melebihi 50% berat keseluruhan.
2.Agregat kasar terdiri dari butir-butir yang berfariasi besarnya dan biala digunakan ayakan dengan susunan ayakan yang telah ditentukan harus memnuhi syarat-syarat sbb:
a.  Sisa pada ayakan 4 mm harus berkisar  90 sampai 98% dari berat.
b.  Selisih antara sisah komolatif  pada ayakan yang berukauran maksimum 60% dan minimum 10% dari berat.
3.Berat butir agregat tidak boleh lebih dari 1/5  jarak terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan, 1/3 dari tebal plat atau 34 dari jarak bersih antara batang-batang / berkas-berkas tulangan. Penyimpanan dari batasan ini boleh dengan seisin ahlinya, cara-cara pengaturan apabila tidak terjadi sarang-sarang kerikil.
4.Istilah-istilah
a.  Berat jenis pesifik adalah perbandingan antara berat kering agregat kasar dengan berat air suling pada tekanan volume sama.
b.  Berat jenis spesifi kering permukaan jenuh (ssd) adalah perbandingan antara berat kering permukaan jenuh agregat kasar dengan berat air suling pada volume sama pada suhu t derajat selcius.
c.  Berat jenis spesifik semu adalah perbandingan antara berat kering agregat kasar dengan berat air suling pada volume sama.
d.  Penyerapan adalah persentase berat air yang dapat disimpan pori terhadap agregat kering.
Pemeriksaan kekerasan agregat kasar dengan bejana rudolf :
1.Alat
a. Timbanga dengan ketelitian 0,01 gram.
b.Bejana tekan rudolf dengan 0 selinder 11,8 cm tinggi 40 cm lengkap dengan stempelnya.
c. Mesin tekan kapasitas 40 ton.
d.Ayakan standar.
e. Cawang/baki.
2.Bahan
a. Kerikil /agregat kasar.
Þ       Langkah-langkah kerja
1.Siapkan batu pecah atau kerikil dari hasil ayakan fraksi a antara 30 sampai 19,2 mm. Fraksi b antara 19,2 sampai 9,6 mm, masing-masing fraksi diambil kurang lebih sebanyak 1,1 liter untuk setiap 1x pengujian.
2.Keringkan masing-masing fraksi sampai berat tetap dan ditimbang .
3.Masukkan agregat (masing-masing fraksi) kedalam bejana rudolf dan retakan permukaannya.
4.Pasangkan stempel penekan tepat di atas permukaan agregat.
5.Lakukan pembebanan dibawah mesin tekan dengan beban 20 ton dalam tempo 1 ½ menit.
6.Tahan pada tekanan 20 ton selama ½ menit kemudian angkat bejana rudolf dari mesin tekan .
7.Keluarkan agregat dari bejana dan lakukan pengayakan dengan ayakan ukuran 2 mm (jangan sampai ada yang tercecer).
8.Tampung bagian yang menembus ayakan 2 mm pada tiap-tiap fraksi dan timbang beratnya.
9.Hitungan presentase kekrasan dengan rumus (berat contoh/berat yang lolos ayakan  X 100%).



Pemeriksaan Kekerasan Agregat Kasar Dengan Cara Goresan Kawat Tembaga
Alat dan bahan
·       Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
·       Kawat tembaga kurang lebih 0,1/16 inci dengan kekerasan rokwel yang dibuat pada salah satu ujungnya agak runcing (seperti pinsil)
·       Baki / loyang
·       Ayakan standar ukuran 9,6 mm, 12,5 mm, 19,2 mm, 25,4 mm, 38,4 mm, dan 50 mm.
·       Riftle samler
Bahan
·       Agregat kasar
Langkah kerja
1.        Ambillah contoh agregat dari hasil pencampuran dan pembagian dengan menggunakan riftle sampler kurang lebih sebanyak 20 kg.
2.        Ayakan agregat diatas dengan menggunakan susunan ayakan dan jumlah benda uji yaitu :
55 mm – 38,4 mm à minimum 12.000 gram
38,4 mm – 25,4 mm à minimum 4.500 gr
25,4 mm – 19,2 mm à minimum 1.500 gr
19,2 mm – 12,5 mm à minimum 600 gr
12,5 mm – 9,6 mm à minimum 200 gr